Kamis, 15 Desember 2016

Pepatah Tiongkok Kuno

心情再差,也不要寫在臉上,,,因為沒有人喜歡看;
Walau hati lagi segalau apapun, janganlah ditampilkan diraut muka, karena tidak ada orang yang suka melihatnya.

日子再窮,也不要掛在嘴邊,因為沒有人無故給你錢;
Hidup semiskin apapun, tidak usah diutarakan, karena tidak ada orang yang tanpa alasan memberikan anda uang.

工作再累,也不要抱怨,因為沒有人無條件替你幹;
Kerja seletih apapun, tidak perlu ngomel, karena tidak ada orang yang tanpa alasan akan membantu anda bekerja.

生活再苦,也不要失去信念,因為美好將在明天;
Hidup sesulit apapun, jangan hilang kepercayaan diri, karena esok hari akan lebih indah.

品性再壞,也要孝順父母,因為你也有老的那天
Seburuk apapun sifatnya, harus tetap berbakti kepada orang tua, karena suatu saat nanti anda juga akan menjadi tua.

如果難過就努力抬頭望天空吧,它那麼大,一定可以包容你的所有委屈。
Jika sedang bersedih tatap langit, langit begitu luas, pasti bisa menampung semua perasaanmu yang tertekan.

時間不一定能證明許多東西,但一定會讓你看透許多東西。
Walaupun waktu belum tentu dapat membuktikan banyak hal, namun pasti bisa membuat anda mengerti banyak hal.

Selasa, 13 Desember 2016

Menjadi Orang Baik, oleh: YM Bhante Sri Pannavaro

Ada orang berbuat baik dengan tujuan supaya kelihatan baik. Dia berbuat baik supaya masyarakat melihat bahwa dirinya adalah orang baik. Jadi, kalau sampai tidak ada orang lain yang melihat itu, maka dia akan kecewa. "Wah! Sudah saya relakan untuk tidak tidur dan uang sudah keluar banyak, tetapi mengapa orang-orang masih belum menyebut saya orang baik?" Dia akan menyesal. Itulah berbuat baik dengan tujuan supaya tampak baik di mata orang lain.

Ada orang yang berbuat baik dengan tujuan agar hidupnya enak, hidupnya lancar, keberuntungannya tidak putus, anak-anak dan keluarganya baik, pangkat derajatnya menjadi tinggi, dan tidak mengalami banyak kesulitan. Itulah salah satu tujuannya berbuat baik, melakukan amal-amal kebajikan. Tujuan ini amat wajar. Berbuat baik agar memetik buah kebaikannya itu dalam wujud kehidupan yang cukup makanan, cukup sandang, kehidupan anak-anak lancar, bukankah tujuan atau harapannya itu sesuatu yang wajar sekali?

Namun, tujuan baik yang paling tinggi adalah agar bisa menjadi orang baik. Kalau orang berbuat baik dengan tujuan menjadi orang baik, maka pasti orang lain akan melihat dirinya adalah orang baik. Pasti. Tidak usah ingin terlihat baik. Dengan sendirinya nanti pasti tampak baik karena memang dirinya orang baik. Jadi, dia berbuat baik supaya menjadi baik, bukan semata-mata supaya orang lain melihat dirinya seperti orang baik dan mendapat pujian.


Misalnya, tempat ini adalah tempat dengan udara terbuka. Lalu ada kayu cendana dan bunga-bunga yang baunya harum. Kalau angin bertiup dari barat ke timur, maka sebelah timur akan berbau harum, tetapi sebelah barat tidak berbau. Namun, keharuman orang yang berbuat baik bisa menentang arus angin, tidak hanya tergantung oleh arah bertiupnya angin. Di mana-mana bisa terdengar orang mengatakan, "Oh, dia orang baik." Bila kita berbuat baik untuk menjadi orang baik, maka pangan dan sandang pasti tidak akan kekurangan. Jika kita berbuat baik untuk betul-betul menjadi orang baik, maka kita tidak akan kekurangan. Kita akan kelihatan baik. Itu pasti. Pasti namanya juga harum, pasti berkecukupan. Namun, semua itu bukan menjadi pendorong kita berbuat baik. Kita berbuat baik dengan tujuan menjadi baik, sekalipun tidak ada orang lain yang tahu.

Berusahalah, meskipun mungkin tidak bisa seperti biarawan. Kita berbuat baik dengan tulus supaya kecenderungan kita untuk berbuat jahat bisa berkurang. Di samping itu, agar kehidupan kita juga baik, anak-anak bisa sekolah, sehat, tidak banyak rintangan yang berarti, dan sebagainya. Itu tujuan yang wajar, asalkan jangan berbuat baik hanya supaya orang lain bisa melihat dirinya baik. Itu terlalu rendah. Pujian orang lain itu tidak perlu dicari, nanti akan datang sendiri.

Seandainya kita melakukan kebaikan dan ada orang lain mengaku bahwa kebaikan kita itu dialah yang melakukannya, kita tidak usah marah, ribut, atau sampai pukul-pukulan. Pukul-pukulan hanya karena berebut ucapan, "Aku yang melakukan, bukan kamu." itu tidak perlu. Nilai kebaikan kita akan tetap menjadi bagian dari kehidupan kita, tidak akan hilang. Apalagi kita melakukan kebaikan tidak untuk mencari pujian. Kalau kita melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh, maka kita pasti sungguh-sungguh baik.

Senin, 12 Desember 2016

Why I Believe Buddha

Suatu bacaan yang menarik bagi saya. Jadi, saya juga akan membagikan sedikit pencerahan ini :)

Buddha tidak pernah menjanjikan hal-hal indah ataupun menjanjikan saya pasti akan ke surga atau nirvana bila percaya kepada-Nya. Buddha juga tidak pernah berkata, "Jika tidak percaya kepada-Ku, maka pasti masuk neraka." 

Buddha tidak memberikan dongeng yang mengerikan atau menyenangkan supaya manusia percaya dan takut terhadap-Nya. Buddha tidak pernah mengatakan, "Akulah yang menciptakan langit dan bumi ini." Buddha bahkan juga tidak bisa mensucikan orang lain.

Bahkan untuk mensucikan diri sendiripun mengandalkan kita sendiri, tetapi mengapa saya masih mau mengikuti ajaran yang diajarkan oleh-Nya? Karena Buddha-lah, saya tahu:
- mengapa saya menderita?
- mengapa saya sakit? Dan lain-lain.

Dari Buddha saya mengerti hukum karma dan empat kesunyataan mulia, sehingga menambah kebijaksanaan untuk tidak menyalahkan siapapun atas penderitaan sendiri. Dari Buddha juga saya diajarkan cinta kasih terhadap semua makhluk hidup apapun juga. 


Jika suatu saat saya berhasil dalam melewati roda samsara ini sampai akhir hidup, saya hanya ingin agar dapat terbebas dari kelahiran. Tidak ada kelahiran, maka tidak ada penderitaan dan kematian. Apa yang kita tanam, itu yang kita petik. Apa yang kita lakukan, itu yang kita dapatkan (hukm karma). Demikianlah ajaran yang diajarkan oleh Buddha. 

Ingat: Suka cita dan duka cita di tangan kita masing-masing, bukan di tangan siapa-siapa.

Jumat, 09 Desember 2016

Triple Filter Test

Socrates adalah seorang filsuf besar Yunani yang terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan Socrates dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"


"Tunggu sebentar," jawab Socrates.

"Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test."

1. FILTER PERTAMA: kebenaran
"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?"

"Tidak," jawab orang itu. "Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi, Anda tidak yakin itu benar. Sekarang saya berikan filter yang kedua."

2. FILTER KEDUA: kebaikan
"Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ketiga."

3. FILTER KETIGA: kegunaan
"Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu akan berguna bagi saya?"

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang BELUM TENTU BENAR, BUKAN TENTANG KEBAIKAN, dan bahkan TIDAK BERGUNA bagi saya. Mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

---
Sahabatku, demikianlah mengapa SOCRATES dianggap sebagai seorang filsuf besar dan sangat terhormat. 


Gunakanlah Triple Filter Test setiap kali kita mendengar atau menyampaikan sesuatu tentang kawan kita atau orang lain. Jika bukan kebenaran, bukan kebaikan, dan bahkan tidak ada kegunaan yang positif, berita tersebut tidak perlu kita terima atau tanggapi, apalagi kita sampaikan kepada orang lain.

Ingat: Barangsiapa membawa berita tentang orang lain kepadamu, maka dia akan membawa berita tentang dirimu kepada orang lain. Semoga hari-harimu selalu indah bersama keluarga tercinta <3 p="">

Rabu, 05 Oktober 2016

Kekeliruan Tentang Agama Buddha (part 2)

Banyak orang, bahkan umat Buddha sendiri yang keliru dalam memahami ajaran Buddha. Beberapa kekeliruan itu terbentuk selain karena pergaulan dalam komunitas tertentu, juga harus disadari karena kita sendiri sebagai umat Buddha terkadang tidak terlalu menaruh perhatian terhadap ajaran mulia ini. Berkat rasa bakti dan pengabdian jutaan umat Buddha di seluruh dunia sejak zaman dulu kala hingga saat ini, agama Buddha berhasil bertahan selama lebih dari 2500 tahun - sebuah usia yang cukup tua bagi sebuah agama -, tetapi yang patut kita perhatikan pula adalah bahwa dalam perkembangannya selama kurun waktu tersebut, ajaran Buddha telah sedikit banyak menerima berbagai akulturasi dan adaptasi yang terkadang bahkan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dalam ajaran Buddha sendiri.

1. Umat Buddha harus menjadi vegetarian

Mungkin pada beberapa tradisi buddhis menjadi vegetarian merupakan suatu kewajiban, tetapi kebanyakan tradisi dan biarawan/biarawati memandang bahwa vegetarianisme sebagai suatu pilihan pribadi dan bukan perintah dalam agama Buddha. 


Dalam teks-teks Pali, Buddha sendiri tidak pernah disebutkan sebagai seorang vegetarian. Para bhikkhu dan termasuk Buddha sendiri, berjalan mengumpulkan dana makanan dan peraturannya adalah bahwa makanan apapun yang diberikan oleh umat awam haruslah diterima dan dimakan, termasuk daging, kecuali apabila bhikkhu tersebut telah mengetahui bahwa daging tersebut dibunuh khusus untuk dipersembahkan kepada bhikkhu, maka bhikkhu dilarang memakan daging tersebut.

2. Ajaran Buddha bukanlah sebuah agama

Sebenarnya pernyataan di atas muncul karena kata "agama" yang didefinisikan secara umum memiliki konsep Ketuhanan yang tunggal, memercayai kitab suci masing-masing, dan biasanya memiliki nabi-nabi penyebar agama. Mengingat syarat-syarat tersebut, tentu saja agama Buddha tidak dapat disebut sebagai agama, tetapi seharusnya kata "agama" lebih luas daripada itu. Definisi agama hanya sebatas sebuah sistem kepercayaan terhadap Tuhan (atau sesosok maha dewa atau dengan sebutan apapun lainnya) dan terhadap isi kitab suci saja tentulah sangat sempit. 

Seharusnya kita mendefinisikan agama dari tujuan awal diciptakannya agama itu dalam komunitas manusia. Yang saya yakini, tujuan awal dari penciptaan sebuah agama adalah demi memberikan arah hidup yang benar bagi manusia, sehingga tercipta perdamaian diri dan perdamaian dunia. Cara hidup atau pedoman hidup itulah yang seharusnya menjadi hal pokok dalam mendefinisikan kata agama. Kalau mau lebih global, kita bisa melihat dari definisi "religion" (bahasa inggris), yakni sebuah sistem kepercayaan berkenaan dengan sebab, sifat/karakteristik, dan tujuan dari alam semesta ini.

Jadi menurut saya, ajaran Buddha sebagai pedoman hidup jelas merupakan sebuah agama. Sebuah agama yang besar yang darinya banyak zaman keemasan muncul di berbagai belahan bumi. Bahkan menurut saya, ajaran Buddha tidak hanya sekedar agama, tetapi juga pedoman hidup, filosofi, ilmu pengetahuan, dan gaya hidup.

3. Ajaran Buddha mengajarkan kita untuk menderita

Jelas ini merupakan kekeliruan besar. Buddha tidak pernah mengajarkan kita untuk hidup menderita. Sebaliknya, tujuan utama Petapa Gotama menjadi seorang Buddha adalah membebaskan manusia dari penderitaan. Pandangan keliru yang mengatakan bahwa ajaran Buddha mengajarkan penderitaan tampaknya berasal dari kekeliruan sebagian orang terhadap butir pertama dari Empat Kesunyataan Mulia, yakni bahwa hidup adalah penderitaan. Sebenarnya apabila kita teliti, kata dukkha kurang tepat diartikan sebagai penderitaan. Lebih tepatnya dikatakan sebagai sesuatu yang tidak memuaskan, sesuatu yang tidak permanen, sesuatu yang cenderung berubah. Jadi, bahkan kebahagiaan maupun kemalangan bisa disebut dukkha karena mereka datang dan pergi setiap saat dalam kehidupan kita.

Lebih dari itu, Buddha tidak hanya mengajarkan bahwa hidup adalah dukkha saja, tetapi juga apa penyebabnya (butir kedua), apakah ada kemungkinan terbebas dari dukkha (butir ketiga), dan bagaimana cara agar terbebas dari dukkha (butir keempat). Dengan demikian, jelaslah bahwa Buddha adalah seseorang yang sangat peduli terhadap kepentingan umat manusia dan ajarannya bukanlah ajaran pesimis, melainkan realistis. 

4. Umat Buddha menjauhi kemelekatan, jadi mereka tidak bisa menjalin hubungan apapun

Ini juga merupakan penyataan keliru yang bahkan sering kali diartikan oleh umat Buddha sendiri. Memang benar Buddha mengajarkan kita untuk tidak melekat, selalu berlatih melepas, tetapi bukan berarti kita dianjurkan untuk tidak memiliki pertalian hubungan dengan siapapun. Menjauhi kemelekatan tidak berkaitan dengan masalah menjalin hubungan. Justru hubungan harus dipelihara dengan baik, hingga pada akhirnya harus berpisah, pun berpisah dengan baik - tidak melekat dan tidak menjadi menderita karenanya.


Menjauhi kemelekatan adalah pada saat kita menerima kondisi yang berbeda (entah itu menyenangkan ataupun tidak menyenangkan), kita sadar bahwa segala sesuatu itu memang tidak ada yang kekal, selalu berubah, dan oleh karena itu, bersedia untuk melepasnya serta menerima kondisi apapun yang terjadi dengan kesadaran.

5. Umat Buddha bersembahyang pada patung Buddha

Jelas ini kekeliruan besar. Dalam kitab Tipitaka, Buddha sendiri menjelaskan bahwa yang kelak akan menggantikan diri-Nya ketika Beliau sudah tiada adalah Dhamma dan Vinaya. Dalam perkembangan awal ajaran Buddha di India pun, umat Buddha masih belum mengenal patung Buddha atau Buddha rupang, bahkan banyak dari para pelajar buddhis dan umat Buddha beranggapan bahwa Buddha Gotama adalah manusia biasa yang kemudian berkat usaha kerasnya sendiri berhasil menemukan pencerahan.


Akan tetapi, bermula dari rasa bakti dan niat baik, umat pun mulai membuat patung-patung Buddha dengan tujuan untuk mengingat kembali kehadiran Beliau di dunia ini dan ajaran - ajaran-Nya, jadi umat Buddha tidak bersembahyang pada patung Buddha karena umat Buddha sama sekali tidak mengidolakan patung Buddha tersebut atau meminta-minta sesuatu pada patung tersebut. Selain itu, bagi para buddhis, patung Buddha juga merepresentasikan sifat ke-Buddhaan yang ada dalam diri setiap makhluk. Dengan menyadari hal ini, maka gambar, patung, atau simbol buddhis apapun bagi para buddhis adalah sebagai objek penghormatan dan pengingat kembali akan ajaran-ajaran Buddha.

Senin, 05 September 2016

Sifat Orang-Orang yang Mengesalkan

Oke, saya buat tulisan ini karena kekesalan saya sudah memuncak gara-gara dua orang.

1. Bullshit! Tahun lalu, "saya akan selalu mendukung, membantu, bla bla bla..." Cuih, sekarang malah mempersulit dan tiap mau ngomong harus siapin mental dulu buat adu mulut. Emang yah, omongan lelaki itu ga ada yang bisa dipegang. Bilang pergaulan dengan si itu salah, lebih baik dengan si ini yang walaupun begitu, tetapi hatinya sebenarnya baik. Buktinya? Bukan ikutan baik, malah sama-sama tambah bikin susah.

2. Buat orang-orang yang tipe belajarnya golongan kolot, please yah... Belajar tuh ga usah sampe nyusahin orang lain. Lurus tabung banget, sih. Perfeksionis sekali. Kalau emang salah pun - entah itu terlambat absen, tugas yang katanya belum sempat dibikin karena saking sibuk ngafalin yang lain, atau salah tulisan dikit yang akhirnya bikin nilai jadi berkurang - ya udah sih, terima dan akui aja. Jangan malah cari kambing hitam buat disalahin. Sudah umur berapa bro n sis? Umur segini masih ga bisa terima kesalahan dan cari-cari orang yang ga ada hubungan apa-apa dengan kesalahan sendiri buat disalahin?

Huft! Pergi jauh-jauh sana!

Jumat, 02 September 2016

PANDANGAN KELIRU DALAM AGAMA BUDDHA

1. Pandangan keliru: Pendarasan adalah sesuatu yang sia-sia dan tak bermanfaat

Pendarasan atau pelafalan sutra dan paritta memiliki makna tertentu dan manfaat khusus. Terdapat banyak jenis pendarasan. Pendarasan paritta cinta kasih (Karaniya Metta Sutta) membantu si praktisi untuk memancarkan cinta kasih kepada makhluk lain. Pendarasan juga bisa membantu meditasi. Dengan memusatkan perhatian pada pelafalan, mendaras bisa membantu menghentikan pikiran supaya tidak melayang-layang dan sebaliknya, akan memperkuat pemusatan perhatian. Pelahafal sutra juga merupakan cara piawai untuk membuka hati umat Buddha terhadap ajaran sejati Buddha yang bisa membimbing mereka untuk lebih mendalami dan memahami kebijaksanaan menuju pembebasan. 


2. Pandangan keliru: Nibbana/Nirwana tak dapat dipahami.

Nibbana bukanlah sesuatu yang tak bermakna. Dalam istilah umum, nibbana berarti kebebasan dari penyebab daar segala derita. Secara harfiah, istilah "nibbana" berarti "meniup padam", seperti halnya memadamkan nyala api. Nibbana adalah padamnya segala keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Padamnya hal-hal ini menimbulkan kemurnian dan kedamaian yang luar biasa. 

3. Pandangan keliru: Semuanya gara-gara kamma/karma

Karma tidak berarti fatalisme (takdir langit yang tak bisa diubah lagi). Secara harfiah istilah "karma" berarti "perbuatan". Karma merujuk pada niat kita, yang terwujud sebagai perbuatan jasmani, ucapan, ataupun pemikiran. Apa yang ktia alami saat ini, yang baik maupun yang buruk, ditentukan oleh pemikiran dan perbuatan kita di masa lampu (sekalipun baru berselang beberapa saat yang lalu). Demikian pula, apa yang akan kita alami pada masa depan dipengaruhi oleh pemikiran dan perbuatan kita pada masa kini. Karma tidak berarti kita diberikan takdir yang sudah tak bisa diutak-atik lagi, yang harus kita terima secara pasif. Karma kita senantiasa berubah, tergantung bagaimana kita berpikir dan berbuat di masa kini. Dengan mengubah pemikiran dan perilaku kita menjadi lebih baik, kita bisa menciptakan keadaan yang diperlukan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Sangatlah penting bagi kita untuk tetap bersikap positif dan berbudi baik dalam pemikiran dan perilaku kita dalam keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan.