Senin, 12 Desember 2016

Why I Believe Buddha

Suatu bacaan yang menarik bagi saya. Jadi, saya juga akan membagikan sedikit pencerahan ini :)

Buddha tidak pernah menjanjikan hal-hal indah ataupun menjanjikan saya pasti akan ke surga atau nirvana bila percaya kepada-Nya. Buddha juga tidak pernah berkata, "Jika tidak percaya kepada-Ku, maka pasti masuk neraka." 

Buddha tidak memberikan dongeng yang mengerikan atau menyenangkan supaya manusia percaya dan takut terhadap-Nya. Buddha tidak pernah mengatakan, "Akulah yang menciptakan langit dan bumi ini." Buddha bahkan juga tidak bisa mensucikan orang lain.

Bahkan untuk mensucikan diri sendiripun mengandalkan kita sendiri, tetapi mengapa saya masih mau mengikuti ajaran yang diajarkan oleh-Nya? Karena Buddha-lah, saya tahu:
- mengapa saya menderita?
- mengapa saya sakit? Dan lain-lain.

Dari Buddha saya mengerti hukum karma dan empat kesunyataan mulia, sehingga menambah kebijaksanaan untuk tidak menyalahkan siapapun atas penderitaan sendiri. Dari Buddha juga saya diajarkan cinta kasih terhadap semua makhluk hidup apapun juga. 


Jika suatu saat saya berhasil dalam melewati roda samsara ini sampai akhir hidup, saya hanya ingin agar dapat terbebas dari kelahiran. Tidak ada kelahiran, maka tidak ada penderitaan dan kematian. Apa yang kita tanam, itu yang kita petik. Apa yang kita lakukan, itu yang kita dapatkan (hukm karma). Demikianlah ajaran yang diajarkan oleh Buddha. 

Ingat: Suka cita dan duka cita di tangan kita masing-masing, bukan di tangan siapa-siapa.

Jumat, 09 Desember 2016

Triple Filter Test

Socrates adalah seorang filsuf besar Yunani yang terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan Socrates dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"


"Tunggu sebentar," jawab Socrates.

"Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test."

1. FILTER PERTAMA: kebenaran
"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?"

"Tidak," jawab orang itu. "Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi, Anda tidak yakin itu benar. Sekarang saya berikan filter yang kedua."

2. FILTER KEDUA: kebaikan
"Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ketiga."

3. FILTER KETIGA: kegunaan
"Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu akan berguna bagi saya?"

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang BELUM TENTU BENAR, BUKAN TENTANG KEBAIKAN, dan bahkan TIDAK BERGUNA bagi saya. Mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

---
Sahabatku, demikianlah mengapa SOCRATES dianggap sebagai seorang filsuf besar dan sangat terhormat. 


Gunakanlah Triple Filter Test setiap kali kita mendengar atau menyampaikan sesuatu tentang kawan kita atau orang lain. Jika bukan kebenaran, bukan kebaikan, dan bahkan tidak ada kegunaan yang positif, berita tersebut tidak perlu kita terima atau tanggapi, apalagi kita sampaikan kepada orang lain.

Ingat: Barangsiapa membawa berita tentang orang lain kepadamu, maka dia akan membawa berita tentang dirimu kepada orang lain. Semoga hari-harimu selalu indah bersama keluarga tercinta <3 p="">

Rabu, 05 Oktober 2016

Kekeliruan Tentang Agama Buddha (part 2)

Banyak orang, bahkan umat Buddha sendiri yang keliru dalam memahami ajaran Buddha. Beberapa kekeliruan itu terbentuk selain karena pergaulan dalam komunitas tertentu, juga harus disadari karena kita sendiri sebagai umat Buddha terkadang tidak terlalu menaruh perhatian terhadap ajaran mulia ini. Berkat rasa bakti dan pengabdian jutaan umat Buddha di seluruh dunia sejak zaman dulu kala hingga saat ini, agama Buddha berhasil bertahan selama lebih dari 2500 tahun - sebuah usia yang cukup tua bagi sebuah agama -, tetapi yang patut kita perhatikan pula adalah bahwa dalam perkembangannya selama kurun waktu tersebut, ajaran Buddha telah sedikit banyak menerima berbagai akulturasi dan adaptasi yang terkadang bahkan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dalam ajaran Buddha sendiri.

1. Umat Buddha harus menjadi vegetarian

Mungkin pada beberapa tradisi buddhis menjadi vegetarian merupakan suatu kewajiban, tetapi kebanyakan tradisi dan biarawan/biarawati memandang bahwa vegetarianisme sebagai suatu pilihan pribadi dan bukan perintah dalam agama Buddha. 


Dalam teks-teks Pali, Buddha sendiri tidak pernah disebutkan sebagai seorang vegetarian. Para bhikkhu dan termasuk Buddha sendiri, berjalan mengumpulkan dana makanan dan peraturannya adalah bahwa makanan apapun yang diberikan oleh umat awam haruslah diterima dan dimakan, termasuk daging, kecuali apabila bhikkhu tersebut telah mengetahui bahwa daging tersebut dibunuh khusus untuk dipersembahkan kepada bhikkhu, maka bhikkhu dilarang memakan daging tersebut.

2. Ajaran Buddha bukanlah sebuah agama

Sebenarnya pernyataan di atas muncul karena kata "agama" yang didefinisikan secara umum memiliki konsep Ketuhanan yang tunggal, memercayai kitab suci masing-masing, dan biasanya memiliki nabi-nabi penyebar agama. Mengingat syarat-syarat tersebut, tentu saja agama Buddha tidak dapat disebut sebagai agama, tetapi seharusnya kata "agama" lebih luas daripada itu. Definisi agama hanya sebatas sebuah sistem kepercayaan terhadap Tuhan (atau sesosok maha dewa atau dengan sebutan apapun lainnya) dan terhadap isi kitab suci saja tentulah sangat sempit. 

Seharusnya kita mendefinisikan agama dari tujuan awal diciptakannya agama itu dalam komunitas manusia. Yang saya yakini, tujuan awal dari penciptaan sebuah agama adalah demi memberikan arah hidup yang benar bagi manusia, sehingga tercipta perdamaian diri dan perdamaian dunia. Cara hidup atau pedoman hidup itulah yang seharusnya menjadi hal pokok dalam mendefinisikan kata agama. Kalau mau lebih global, kita bisa melihat dari definisi "religion" (bahasa inggris), yakni sebuah sistem kepercayaan berkenaan dengan sebab, sifat/karakteristik, dan tujuan dari alam semesta ini.

Jadi menurut saya, ajaran Buddha sebagai pedoman hidup jelas merupakan sebuah agama. Sebuah agama yang besar yang darinya banyak zaman keemasan muncul di berbagai belahan bumi. Bahkan menurut saya, ajaran Buddha tidak hanya sekedar agama, tetapi juga pedoman hidup, filosofi, ilmu pengetahuan, dan gaya hidup.

3. Ajaran Buddha mengajarkan kita untuk menderita

Jelas ini merupakan kekeliruan besar. Buddha tidak pernah mengajarkan kita untuk hidup menderita. Sebaliknya, tujuan utama Petapa Gotama menjadi seorang Buddha adalah membebaskan manusia dari penderitaan. Pandangan keliru yang mengatakan bahwa ajaran Buddha mengajarkan penderitaan tampaknya berasal dari kekeliruan sebagian orang terhadap butir pertama dari Empat Kesunyataan Mulia, yakni bahwa hidup adalah penderitaan. Sebenarnya apabila kita teliti, kata dukkha kurang tepat diartikan sebagai penderitaan. Lebih tepatnya dikatakan sebagai sesuatu yang tidak memuaskan, sesuatu yang tidak permanen, sesuatu yang cenderung berubah. Jadi, bahkan kebahagiaan maupun kemalangan bisa disebut dukkha karena mereka datang dan pergi setiap saat dalam kehidupan kita.

Lebih dari itu, Buddha tidak hanya mengajarkan bahwa hidup adalah dukkha saja, tetapi juga apa penyebabnya (butir kedua), apakah ada kemungkinan terbebas dari dukkha (butir ketiga), dan bagaimana cara agar terbebas dari dukkha (butir keempat). Dengan demikian, jelaslah bahwa Buddha adalah seseorang yang sangat peduli terhadap kepentingan umat manusia dan ajarannya bukanlah ajaran pesimis, melainkan realistis. 

4. Umat Buddha menjauhi kemelekatan, jadi mereka tidak bisa menjalin hubungan apapun

Ini juga merupakan penyataan keliru yang bahkan sering kali diartikan oleh umat Buddha sendiri. Memang benar Buddha mengajarkan kita untuk tidak melekat, selalu berlatih melepas, tetapi bukan berarti kita dianjurkan untuk tidak memiliki pertalian hubungan dengan siapapun. Menjauhi kemelekatan tidak berkaitan dengan masalah menjalin hubungan. Justru hubungan harus dipelihara dengan baik, hingga pada akhirnya harus berpisah, pun berpisah dengan baik - tidak melekat dan tidak menjadi menderita karenanya.


Menjauhi kemelekatan adalah pada saat kita menerima kondisi yang berbeda (entah itu menyenangkan ataupun tidak menyenangkan), kita sadar bahwa segala sesuatu itu memang tidak ada yang kekal, selalu berubah, dan oleh karena itu, bersedia untuk melepasnya serta menerima kondisi apapun yang terjadi dengan kesadaran.

5. Umat Buddha bersembahyang pada patung Buddha

Jelas ini kekeliruan besar. Dalam kitab Tipitaka, Buddha sendiri menjelaskan bahwa yang kelak akan menggantikan diri-Nya ketika Beliau sudah tiada adalah Dhamma dan Vinaya. Dalam perkembangan awal ajaran Buddha di India pun, umat Buddha masih belum mengenal patung Buddha atau Buddha rupang, bahkan banyak dari para pelajar buddhis dan umat Buddha beranggapan bahwa Buddha Gotama adalah manusia biasa yang kemudian berkat usaha kerasnya sendiri berhasil menemukan pencerahan.


Akan tetapi, bermula dari rasa bakti dan niat baik, umat pun mulai membuat patung-patung Buddha dengan tujuan untuk mengingat kembali kehadiran Beliau di dunia ini dan ajaran - ajaran-Nya, jadi umat Buddha tidak bersembahyang pada patung Buddha karena umat Buddha sama sekali tidak mengidolakan patung Buddha tersebut atau meminta-minta sesuatu pada patung tersebut. Selain itu, bagi para buddhis, patung Buddha juga merepresentasikan sifat ke-Buddhaan yang ada dalam diri setiap makhluk. Dengan menyadari hal ini, maka gambar, patung, atau simbol buddhis apapun bagi para buddhis adalah sebagai objek penghormatan dan pengingat kembali akan ajaran-ajaran Buddha.

Senin, 05 September 2016

Sifat Orang-Orang yang Mengesalkan

Oke, saya buat tulisan ini karena kekesalan saya sudah memuncak gara-gara dua orang.

1. Bullshit! Tahun lalu, "saya akan selalu mendukung, membantu, bla bla bla..." Cuih, sekarang malah mempersulit dan tiap mau ngomong harus siapin mental dulu buat adu mulut. Emang yah, omongan lelaki itu ga ada yang bisa dipegang. Bilang pergaulan dengan si itu salah, lebih baik dengan si ini yang walaupun begitu, tetapi hatinya sebenarnya baik. Buktinya? Bukan ikutan baik, malah sama-sama tambah bikin susah.

2. Buat orang-orang yang tipe belajarnya golongan kolot, please yah... Belajar tuh ga usah sampe nyusahin orang lain. Lurus tabung banget, sih. Perfeksionis sekali. Kalau emang salah pun - entah itu terlambat absen, tugas yang katanya belum sempat dibikin karena saking sibuk ngafalin yang lain, atau salah tulisan dikit yang akhirnya bikin nilai jadi berkurang - ya udah sih, terima dan akui aja. Jangan malah cari kambing hitam buat disalahin. Sudah umur berapa bro n sis? Umur segini masih ga bisa terima kesalahan dan cari-cari orang yang ga ada hubungan apa-apa dengan kesalahan sendiri buat disalahin?

Huft! Pergi jauh-jauh sana!

Jumat, 02 September 2016

PANDANGAN KELIRU DALAM AGAMA BUDDHA

1. Pandangan keliru: Pendarasan adalah sesuatu yang sia-sia dan tak bermanfaat

Pendarasan atau pelafalan sutra dan paritta memiliki makna tertentu dan manfaat khusus. Terdapat banyak jenis pendarasan. Pendarasan paritta cinta kasih (Karaniya Metta Sutta) membantu si praktisi untuk memancarkan cinta kasih kepada makhluk lain. Pendarasan juga bisa membantu meditasi. Dengan memusatkan perhatian pada pelafalan, mendaras bisa membantu menghentikan pikiran supaya tidak melayang-layang dan sebaliknya, akan memperkuat pemusatan perhatian. Pelahafal sutra juga merupakan cara piawai untuk membuka hati umat Buddha terhadap ajaran sejati Buddha yang bisa membimbing mereka untuk lebih mendalami dan memahami kebijaksanaan menuju pembebasan. 


2. Pandangan keliru: Nibbana/Nirwana tak dapat dipahami.

Nibbana bukanlah sesuatu yang tak bermakna. Dalam istilah umum, nibbana berarti kebebasan dari penyebab daar segala derita. Secara harfiah, istilah "nibbana" berarti "meniup padam", seperti halnya memadamkan nyala api. Nibbana adalah padamnya segala keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Padamnya hal-hal ini menimbulkan kemurnian dan kedamaian yang luar biasa. 

3. Pandangan keliru: Semuanya gara-gara kamma/karma

Karma tidak berarti fatalisme (takdir langit yang tak bisa diubah lagi). Secara harfiah istilah "karma" berarti "perbuatan". Karma merujuk pada niat kita, yang terwujud sebagai perbuatan jasmani, ucapan, ataupun pemikiran. Apa yang ktia alami saat ini, yang baik maupun yang buruk, ditentukan oleh pemikiran dan perbuatan kita di masa lampu (sekalipun baru berselang beberapa saat yang lalu). Demikian pula, apa yang akan kita alami pada masa depan dipengaruhi oleh pemikiran dan perbuatan kita pada masa kini. Karma tidak berarti kita diberikan takdir yang sudah tak bisa diutak-atik lagi, yang harus kita terima secara pasif. Karma kita senantiasa berubah, tergantung bagaimana kita berpikir dan berbuat di masa kini. Dengan mengubah pemikiran dan perilaku kita menjadi lebih baik, kita bisa menciptakan keadaan yang diperlukan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Sangatlah penting bagi kita untuk tetap bersikap positif dan berbudi baik dalam pemikiran dan perilaku kita dalam keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan.


Jumat, 26 Agustus 2016

Kehidupan dalam (hampir) Setahun

Tepat sebelum saya membuat entri ini, saya membaca entri teman saya yang dia pos sekitar dua minggu yang lalu. Temanya tentang bersyukur. Berhubung saya sudah lama ga ngetik tentang hasil pemikiran saya alias cuma renungan atau penjelasan beberapa hal, so tonight i'll write some of them. 

Awalnya bingung sih mau ngetik ttg apa. Rasanya banyak sekali yang berputar-putar di pikiran ni haha.., tapi berhubung tadi saya ada sedikit menyinggung ttg bersyukur dari entri teman saya, baiklah saya akan bercerita tentang bersyukur versi saya saja.

Pas saya baca sekian banyak hal-hal yang disyukuri teman saya ini (untuk selanjutnya sebut saja "Y" ya, cape ngetiknya "teman saya" terus wkwk), saya jadi berpikir: apa daftar hal-hal yang bisa saya syukuri?

Bagi Y, tercapainya resolusi-resolusinya termasuk dalam daftar. Masalahnya, saya ga bikin resolusi pada awal tahun haha.. Dan masalah lainnya, ketika saya membuat entri ini, saya sedang berada dalam tekanan untuk sesuatu dalam jangka panjang, sehingga saya sampai kepikiran, "Kayaknya gue ga ada deh hal yang bisa disyukuri untuk saat ini."

Tapi ya saya pikir-pikir lagi, "Masa sih ga ada, Y aja banyak gitu daftarnya, masa gue ga ada satupun." Lalu taraaa.. Tiba-tiba saya flashback ke banyak peristiwa dari awal tahun 2016 ini sampai akhir bulan Agustus sekarang. Kayak film.

Saya diwisuda Bulan Mei (Y juga baru saja resmi menyandang gelar sarjana dan ini merupakan salah satu hal yang disyukurinya). Terus kayaknya yang lain hal-hal kecil aja deh: berkenalan dengan teman-teman baru dari luar daerah, sudah berhasil melewati masa kepengurusan yang naik turun selama satu tahun, sudah jadi dokter muda, HP baru, ponakan cewe baru, dapat kesempatan ke Muara Bungo untuk pertama kalinya (ga numpang lewat aja), dan lain-lain.

Yang kepikiran bagi saya sekarang adalah.. Y membahas tentang seseorang yang sedang dekat dengannya dan ini membuat saya jadi memikirkan sesuatu. Berbeda dengan Y, hubungan saya tidak semulus itu. Jangankan mendekati kisah Y, mungkin kalau saya bisa dibilang tidak ada harapan wkwk.. Yah gimana lagi, saya juga tidak akan menceritakannya melalui blog saya. Setidaknya, tidak untuk saat ini. Terlalu sakit untuk dikenang :'

Selain senang sedih, ada juga sesuatu yang sebenarnya mengganggu saya beberapa bulan terakhir. Tidak senang, tidak pula sedih, tapi membebani saya. Saya juga tidak akan menceritakannya lagi hehe.. Terlalu privasi.

Intinya apa ya? Hmm.. Ini pikiran-pikiran yang berkeliaran aja sih soalnya, jadi bingung nyimpulinnya wkwk.. Mungkin begini: dalam setahun, banyak sekali kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita. Banyak sekali. Mulai dari peristiwa menyenangkan, menyedihkan, membebani, membingungkan, dan lain-lain. Hidup, siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya? Saya ingat-ingat lagi diri saya setahun yang lalu. Saya masih pusing mikirin skripsi. But now? Saya sudah jadi dokter muda sejak sekitar April atau Mei. Things are so much different. Apapun itu, sebenarnya ga boleh jadi penyesalan. Kenapa? Karena jika itu bagus, maka jadikanlah sebagai kenangan yang manis, namun kalau jelek, ya jadikan pelajaran dan pengalaman hidup agar tidak terulang lagi. Klasik sih, but it's true. 

Jumat, 12 Agustus 2016

Keakuratan Feng Shui Menurut Buddha Dharma

Dalam agama Buddha dijelaskan ada tiga hal yang paling berpengaruh dalam kehidupan seseorang dan feng shui menempati urutan paling akhir. Ketiga hal tersebut adalah:
  1. Karma pada kehidupan terdahulu
  2. Karma pada kehidupan sekarang
  3. Feng shui (keharmonisan elemen dalam diri dan alam)
Kadang-kadang kita bertemu orang dengan raut muka kusut yang sama sekali tidak menyenangkan untuk dilihat, namun banyak mendapat keuntungan dan bisnisnya lancar. Ada juga dua orang yang lahir pada hari, jam, dan shio yang sama, bahkan hidup dan tumbuh di kota yang sama, namun setelah dewasa memiliki kehidupan yang bertolak belakang. Tentu kita tidak dapat menyalahkan siapapun, termasuk orang tua yang melahirkan kita.

Seperti yang kita ketahui, segala sesuatu dalam kehidupan manusia bersifat anicca (tidak kekal), begitu pula dengan feng shui. Setiap saat peruntungan feng shui dalam diri seseorang dapat berubah, bahkan bertolak belakang 180 derajat. 

Biasanya perhitungan feng shui kamar tidur bertujuan untuk membentuk keluarga harmonis
Pada zaman pemerintahan dinasti Tang di Tiongkok ada seorang pemuka masyarakat yang memiliki hati berbudi luhur dan penuh cinta kasih. Beliau terkenal sebagai orang kaya yang sangat murah hati. Suatu hari datanglah seorang ahli feng shui bertamu ke rumah beliau. Karena merasa orang ini adalah orang yang baik dan penuh kebijaksanaan, maka ahli feng shui tersebut menilai rumah milik orang kaya ini. Ahli feng shui mengatakan bahwa rumah orang ini memiliki aura yang sangat baik.  Bila beliau bersedia mengubah rumah ini menjadi sekolah tinggi, maka akan menghasilkan para cendekiawan yang pintar yang dapat berbakti kepada bangsa dan negara. Penuh welas asih, pemuka masyarakat ini menyerahkan rumahnya untuk dijadikan sekolah. 

Pada zaman dulu orang-orang kaya memiliki rumah yang halamannya sangat luas untuk meletakkan makam leluhur. Sampai suatu hari ia berdiri di bawah pohon yang rindang di sebuah halaman yang sangat luas. Di tanah sebelahnya ia melihat seorang pemuda yang juga sedang mencari tanah untuk makam sanak keluarganya yang baru meninggal. Bersama pemuda itu juga ada seorang ahli feng shui. Ahli feng shui pada masa itu mengukur feng shui menggunakan putaran bintang. Ahli feng shui itu mengatakan bhwa dilihat dari putaran bintang, tanah ini adalah tanah yang terbaik, sedangkan tanah di sebelah adalah tanah yang akan membawa sial karena bintangnya berbentuk sapu. Itu berarti tanah ini akan seperti sapu yang menyapu seluruh harta dan keberuntungan sampai habis.

Pemuka masyarakat yang berbudi mendengar ahli feng shui sama sekali tidak kecil hati. Ia berpikir dalam hati, "Pemuda di sebelah sanak keluarganya baru saja meninggal. Ia membutuhkan makam secepatnya. Biarlah sesuatu yang baik untuk orang lain dan sesuatu yang buruk untuk saya. Seumur hidup saya sudah memiliki harta kekayaan. Bila dikejar terus, maka sampai puluhan keturunanpun tetap tidak akan ada puasnya. Biarkan keturunan saya menjadi orang yang mengalami kesialan asalkan tidak membawa keburukan bagi orang lain."
Setelah itu, tanah itu tetap dibeli oleh pemuka masyarakat tersebut. Tahun silih berganti, ketika bulan sembahyang leluhur (ceng beng) tiba seluruh keluarga besar datang ke makam tersebut. Dari tanah sebelah terdengar ahli feng shui berkata, "Apakah saya mulai kehilangan keahlian saya? Mengapa tahun lalu saya melihat tanah sebelah memiliki bintang sapu, malah sekarang berubah menjadi bintang naga yang melingkari kura-kura?" (naga berarti raja dan kura-kura berarti panjang umur). Perubahan yang bertolak belakang ini sangat menakjubkan. Pemuka masyarakat yang penuh cinta kasih dan keyakinan akan Buddha Dharma dengan rela mau memikul beban penderitaan orang lain. Dari pikiran kebajikan walaupun hanya sekejap dapat mengubah seluruh kehidupan menjadi lebih baik.

Jadi, bila kita ingin menerapkan feng shui dalam tata letak rumah atau kantor dan sebagainya, maka lakukanlah dengan logika. Setelah itu, hilangkan pikiran kesombongan dan hati yang tidak murni. Bila bisnis berjalan lebih lancar, maka jangan lupa untuk berdana paramita, menjalankan bisnis dengan jujur, dan mengikuti puja bakti. Perlu juga diingat bahwa perhitungan feng shui dapat akurat, berarti feng shui juga dapat berdampak dalam moralitas hidup manusia. Oleh karena itu, sebelum Anda menerapkan feng shui dalam kehidupan, terapkan Buddha Dharma terlebih dahulu. Orang yang mengerti Buddha Dharma mengerti bahwa bintan kegelapan bukan selamanya milik kita. Ia dapat berubah menjadi pancaran kebahagiaan bila kita mau memiliki pikiran yang benar dan memperbanyak kebajikan.

Dalam Buddhisme kita mengenal hukum sebab akibat yang merupakan jawaban atas hidup manusia yang memiliki latar berbeda-beda karena setiap orang yang berbuat akan mewarisi karmanya masing-masing. Buddha Sakyamuni bersabda, 
"Tidak di langit, tidak pula di tengah-tengah lautan, ataupun dengan memasuki gua-gua di gunung-gunung, tidak terdapat suatu tempat untuk menyembunyikan diri. Orang tidak dapat menghindari diri dari akibat perbuatan jahatnya sendiri." - Dhammapada 127